TOKOH-TOKOH KARISMATIK
YANG ADA DI DESA PLOSOKANDANG
Sejarah
berdirinya Desa Plosokandang berdasarkan penuturan nenek moyang Desa
Plosokandang secara turun menurun dan Generasi ke Generasi tersebutlah nama
Kyai Agung Taruna alias Singo Taruno yang memiliki rumah atau padepokan di
Plosokandang kurang lebih tahun 1648. Kyai Singo Taruno merupakan sesepuh atau
tokoh di Desa Plosokandang ini karena Kyai Singo Taruno adalah pembabat Desa
Plosokandang. Kyai Singo Taruno merupakan salah satu murid dari Kyai Pacet yang
tercantum pada sejarah babat Tulungagung. Kyai Singo Taruno tidak mempunyai
anak dan meninggal dunia dimakamkan di Desa Plosokandang, dan makamnya masih
ada sampai sekarang.
Tokoh-tokoh
lain yang merupakan tokoh Desa Plosokandang yang merupakan Kepala Desa
Plosokandang diantaranya :
1. Toredjo
Sidi (
1872-1928 )
2. Kadini (
1929-1970 )
3. Hadi
Pranoto (
1970-1984 )
4. Mudjito ( 1984-1994 )
5. Albar
Bandanuji ( 1994-2007 )
6. Sunari,
SP ( 2007-Sekarang )
Mereka
merupakan tokoh-tokoh penting dalam memajukan Desa Plosokandang ini, meskipun
program berbeda tetapi memiliki tujuan yang sama yaitu memajukan Desa
Plosokandang ini. Peraturan ataupun pengaturan selama mereka masih menjabat
sebagai Kepala Desapun juga berbeda, akan tetapi masyarakat Desa tetap mematuhi
apapun peraturan yang dibuat oleh Desa Plosokandang.
Desa
Plosokandang Kecamatan Kedungwaru Kabupaten Tulungagung terletak pada dataran
rendah dengan ketinggian dari permukaan laut kurang lebih 85 m yang memiliki
batas-batas sebagai berikut :
1. Sebelah
Utara : Desa Tunggulsari
2. Sebelah
Selatan : Desa Tanjungsari /
Desa Serut
3. Sebelah
Barat : Kelurahan Jepun /
Kelurahan Bago
4. Sebelah
Timur : Desa Sumberdadi
Pada
saat ini Desa Plosokandang telah dipimpin oleh Bapak Sunari, SP sebagai Kepala
Desa Plosokandang. Peraturan yang dibuat Beliau beserta Instansi Desa tidak
begitu membebankan masyarakat. Masyarakat menyukai kepemimpinan Bapak Sunari,
SP ini sebagai bukti bisa dilihat kalau Bapak Sunari, SP ini sudah kedua kalinya
menjabat sebagai Kepala Desa Plosokandang ini.
Dalam
menangani masalah yang ada Bapak Sunari, SP beserta Instansi Desa yang lainnya
bekerja sama dengan masyarakat. Diadakannya musyawarah yang dihadiri para
Instansi Desa dengan para masyarakat, musyawarah dilaksanakan sampai
terbentuknya kata mufakat diantara semua pihak. Setelah ada kata mufakat baru
diaplikasikan dalam permasalahan tersebut. Begitu yang disampaikan oleh Bapak
Sunari, SP. Beliau juga berkata bahwa masyarakat Desa Plosokandang ini memiliki
solidaritas yang amat erat, dibuktikan dengan apabila ada musyawarah Desa yang
membahas permasalahan dari salah satu masyarakat, masyarakat lain
berbondong-bondong untuk mengikuti musyawarah itu untuk membantu mencari jalan
kluar permasalahan dari salah satu masyarakat tersebut. Tidak hanya membantu
sebatas mencari jalan keluar saja tetapi masyarakat yang lain juga membantu
berupa materil yaitu mengumpulkan uang untuk membantu meringankan beban apabila
itu dibutuhkan, masyarakat juga membantu dengan tenaga mereka.
Salah
satu contoh permasalahan yang ada adalah salah satu warga Desa Plosokandang ada
kakek tua yang tidak memiliki istri, anak dan sanak saudara, kakek ini tinggal
sebatangkara disebuah gubuk yang berukuran sangatlah kecil yang berukuran kurang
lebih panjang 2 m dan lebar 2 m, itupun tanah yang didiami itu merupakan tanah
milik orang lain. Kondisi fisik kakek tua itupun juga memprihatinkan, kakek itu
sudah tidah bisa melihat, mata kakek itu sudah rabun karena usianya yang sudah
lanjut. Melihat kondisi salah satu warga Desanya ini Bapak Sunari, SP beserta
instansi Desa dan juga masyarakat Desa Plosokandang tergugah untuk membantu
kakek ini. Para warga Desa juga para Instansi Desa berkumpul di Kantor Kepala
Desa untuk membahas permasalahan ini, dalam musyawarah ini telah diputuskan
bahwa kakek tua itu akan mendapat bantuan dari Desa juga dari masyarakat dan
akan menjalani masa tuanya tanpa kesusahan lagi. Dan keesokan harinya para
instansi desa juga para masyarakat berbondong-bondong menuju rumah kakek itu,
Bapak Sunari, SP selaku menjadi Kepala Desa memberi pengertian dan memberi
arahan kepada kakek itu, bahwa kakek itu bisa tinggal bersama salah satu warga
dan warga beserta keluarganya menerima dan mau meolong kakek itu dengan senang
hati tanpa ada paksaan. Dan warga tersebut juga menyanggupi untuk merawat juga
menghidupi kakek itu, tetapi instansi Desa juga para warga masyarakat yang lain
juga membantu dengan memberi makanan, pakaian, obat, dan uang. Awalnya kakek
itu menolak untuk meninggalkan tempat tinggalnya itu, akan tetapi dengan
kesabaran untuk memberi pengertian kakek itu akhirnya bapak Sunari, SP beserta
Masyarakat bisa membujuk kakek itu untuk menerima keputusan dari kluarga besar
Desa. Setelah itu kakek itu diantarkannya kerumah warga yang akan menjadi
keluarga baru kakek itu, dan para warga lain bergotong royong untuk merobohkan
dan membersihkan gubuk kakek itu karena tanah itu sudah diminta oleh yang
memiliki tanah itu. Saat ini kakek itu sudah mengalami kemajuan yang sangat
baik, kakek itu jadi lebih terawat dan kakek itu tidak lagi merasa kelaparan
atau kesepian dan merasa sebatangkara lagi.
Itu
tadi salah satu contoh permasalahan yang pernah ada, permasalahan yang banyak
terjadi di Desa ini adalah seperti warga yang mengalami kehilangan, misalkan
kehilangan KTP, SIM, ATM, Pasport dan lain-lain. Ada juga warga yang datang
untuk melaporkan kemalingan, ada juga yang datang untuk membuat Akta kelahiran,
surat domisili, surat keterangan tidak mampu, dan masih banyak lagi. Instansi Desapun
membantu para warganya itu misalnya membuat surat keterangan kehilangan lalu
menyalurkannya kepada pihak yang berwajib. Begitu yang dismpaikan oleh Kepala
Desa Plosokandang yaitu Bapak Sunari, SP.
Salah
satu tokoh atau sesepuh juga yang ada di Desa Plosokandang ini adalah KH Imam
Mashuri, beliau dilahirkan pada tahun1918. Pada saat ini beliau masih sehat dan
masih aktif dalam mengimami jamaah masjid, di usia 99 tahun ini yang hampir
menginjak usia 1 abad ini beliau masih bisa membantu para warga Plosokandang
dan warga dari Desa lain dalam permasalahannya masing-masing. Bapak KH Imam
Mashuri semenjak usia 36 tahun telah menjadi muddin di Desa ini, beliau juga
pernah memegang muslimat NU dan memegang jamaah lansia selama 12 tahun. Diusia
47 tahun beliau juga pernah memegang Thoriqoh Naqsabandiyah. Beliau dari dulu
aktif dalam mengisi tausiyah di pengajian-pengajian, dan beliau juga banyak
membantu warga yang memiliki permasalahan. Contoh dari permasalahan yang ada
adalah menolong warga yang sedang sakit, misalkan sakit keras waraga itu
meminta KH Imam Mashuri untuk mendoakan dan memberikan obat berupa air yang
sudah didoakan. Menolong salah satu warga yang memiliki masalah dalam rumah
tangganya atau rejekinya, KH Imam Mashuri menolong dengan memberi nasihat-nasihat
juga memberikan amalan-amalan serta mendoakan warga tersebut. Menolong warga
yang ingin melahirkan, yang ingin bekerja diluar Negeri atau luar Jawa dengan
mendoakan dan memberi nasihat serta memberi amalan. Terdapat banyak juga warga
biasa bahkan Kyaipun yang berdatangan untuk berguru kepada Beliau, KH Imam
Mashuri pun memberi dan mengajarkan ilmu yang Beliau ketahui dan pelajari
semasa hidupnya. Dan tanggapan para masyarakat atau warga yang pernah meminta
bantuan responnya sangatlah baik. Banyak yang mengatakan kalau masalahnya bisa
terselesaikan, dan banyak yang mengatakan bahwasanya warga cocok dengan
pengobatan atau nasihat dari Bapak KH Imam Mashuri ini. Akan tetapi diusia yang
sudah hampir 1 abad ini Bapak KH Imam Mashuri sudah tidak aktif lagi dalam
kegiatan-kegiatannya itu lagi, saat ini Beliau hanya aktif dalam mengimami
jamaah sholat dan beliau juga masih menerima warga yang datang kepadanya untuk
membantu ataupun berguru. Pada saat ini seperti mengisi tausiyah ke majelis-majelis
telah digantikan oleh anaknya. Dan Alhamdulillah diusia ke 99 tahun ini Bapak
Imam Mashuri masih diberi kesehatan, bahkan beliau masih bisa menjalankan
aktifitasnya, akan tetapi Bapak KH Imam Mashuri tidak dapat lagi melihat
dikarenan mengalami rabun mata. Hampir seluruh warga Plosokandang dan
sekitarnya mengenal sosok ini karena jasa dan pengalmannya semasa hidupnya, dan
Beliau sangat disegani oleh semua orang.
Bapak
Sunari, SP dan Bapak KH Imam Mashuri mereka adalah tokoh-tokoh yang kharismatik
di Desa Plosokandang ini. Jasa dan pengalaman hidup mereka yang sangat memberi
inspirasi kepada para pemuda. Wargapun menyegani dan menghormati mereka sebagai
tokoh penting di Desa Plosokandang ini. Dan masih banyak lagi jasa-jasa mereka
yang tidak dapat diungkapkan.
Peran Bapak Sunari dalam memperhatikan warganya yang sudah tua itu adalah pelaksanaan tugas sebagai kepala desa, apakah tepat jika disebut kharisma?
BalasHapusPada tokoh yang kedua, Anda belum menceritakan bagaimana kharismanya digunakan untuk menyelesaikan persoalan hukum sebagaimana dikonsepsikan oleh Max Weber.
Penulisan informasi tentang sejarah desa seharusnya disertai keterangan sumber informasinya, misalnya kamu dengar dari penuturan siapa, bukan hanya dari nenek moyang.
BalasHapus